Kamis, 12 Januari 2017

Jejak Wisata Kawasan Perniagaan Pecinan di Bandung oleh Novita Sari


Kelenteng merupakan tempat peribadatan masyarakat Tionghoa pada tahun 1930-an. Mengapa disebut kelenteng??? Pada saat itu, masyarakat Tionghoa yang akan melakukan ritual selalu ditandai dengan bunyi “teng teng teng” yang berasal dari jam dinding yang besar. Dari situlah kata kelenteng berasal. Namun, tahun 1965-an kata kelenteng digantikan dengan Vihara. Sebelumnya, Indonesia memiliki enam agama yang diakui yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan Konfusius. Namun, pada pemerintahan Orde Baru agama Konfusius dihapuskan sebab dianggap sebagai kepercayaan bukan sebagai agama. Nah, sejak itulah nama kelenteng diganti menjadi “Vihara” karena bukan dianggap lagi sebagai tempat ibadah. Akan tetapi, saat ini, vihara tetap dipertahankan oleh orang Tionghoa sebagai tempat peribatan dan juga sebagai tempat ritual yang sering dilakukan di hari-hari besar berdasarkan kalender Gregorian Tionghoa. Masyarakat Tionghoa memiliki empat kepercayaan yaitu Tao, Konfusius, Buddhis, dan Khonghucu. Dengan demikian, Bandung memiliki kelenteng peninggalan masyarakat Tionghoa yang menganut kepercayaan Konfusius.

Vihara Samudra Bhakti merupakan komuniti senter bagi masyarakat Tionghoa. Tempat tersebut sering digunakan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan masyarakat Tionghoa. Bahkan, vihara tersebut juga pernah digunakan sebagai tempat menuntut ilmu sebab sering dijadikan sekolah. Bentuk arsitektur Vihara Samudra Bakti berbentuk segiempat yang merupakan miniatur dari falsafah Tionghoa. Vihara tersebut terdapat tiga ruang bagian kanan, tengah dan kiri. Namun, ruang kanan dan kiri sudah dilakukan renovasi sementara ruang tengah bentuk yang tidak boleh diubah oleh pemerintahan daerah sesuai dengan Peraturan Daerah No. 19 tahun 2009.

Vihara Samudra Bhakti terdapat tabung pertanyaan. Tabung tersebut berada di ruang tengah yang terdapat dua buah yaitu untuk menampung pertanyaan dan pengobatan. Tabung untuk menampung pertanyaan berupa pertanyaan seputar kehidupan masyarakat Tionghoa. Sementara itu, tabung untuk pengobatan berupa pertanyaan pengobatan yang sifatnya penguatan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab melalui syair atau dongeng bukan secara nyata.

Vihara Samudra Bhakti merupakan kelenteng besar yang berada di Jalan Kelenteng No. 5 Bandung. Sementara di dekat kelenteng besar terdapat kelenteng kecil yang terdapat di daerah Jalan Cibadak yang terdapat empat kelenteng kecil yaitu Vihara Buddhi, Kelenteng Pribadi, Vihara Dharmaramsi, dan Vihara Sinar Mulia. Vihara Buddhi merupakan kelenteng masyarakat Tionghoa khusus wanita, sedangkan kelenteng pribadi dimiliki oleh salah satu orang Tionghoa tapi boleh digunakan untuk umum. Vihara Dharmaramsi merupakan kelenteng yang digunakan untuk melakukan budaya tahunan seperti Imlek (Hari raya yang menandakan hari pertama musim semi bagi masyarakat Tionghoa). Selain itu, Vihara Dharmaramsi dijadikan tempat masyarakat Tionghoa untuk membuat kerajinan tangan di hari-hari tertentu seperti upacara ritual.

Masyarakat Tionghoa memiliki Nabi yang bernama Kong Chu yang lahir pada 551 SM. Dalam kelenteng yang dikunjungi di Bandung terdapat banyak patung. Tujuannya patung tersebut untuk dikenang, diketahui keistimewanya bukan disembah. Selain itu, terdapat buah-buahan disekitar patung di dalam kelenteng tersebut salah satu budaya yang dimiliki masyarakat Tionghoa yang tujuannya untuk mrnghormati leluhur sama halnya seperti manusia yang memiliki toleransi yang tinggi.

Batu nisan peninggalan orang Tionghoa kebanyakan etnis Fu Chi Eun dan Khu Ang Tun yang berasal dari Tionghoa Selatan yang keluar dari kawasannya sebab ketika itu terjadi bencana alam dan terjadi politik kekuasaan. Maka mereka pergi dari kawasannya untuk mempertahankan diri dari serangan tersebut. Kawasan Tionghoa Selatan merupakan satu provinsi yang memiliki dialek yang berbeda-beda.

Masyarakat Tionghoa memiliki sebuah kebudayaan memasangkan cermin warna merah di depan pintu yang dipercaya dalam falsafah Fung Shu oleh orang Tionghoa sebagai simbolik untuk daya alam yaitu misalnya untuk menangkal terjadinya kemalingan. Jika, pencuri itu melihat ke cermin tersebut maling tersebut akan ketakutan melihat dirinya sendiri sebab maling itu mukanya akan berubah menjadi menyeramkan.

Bidang perniagaan, sebagian besar masyarakat Tionghoa melakukan bisnis. Dalam melakukan bisnis masyarakat memiliki pekerjaan yang sama yaitu berdagang produk yang sejenis berdasarkan etnis masing-masing sehingga setiap etnis menjual produk yang berbeda-beda. Perdagangan yang dilakukan oleh orang Tionghoa di Bandung terletak di daerah Jalan Waringin bekas pecinan perniagaan masyarakat Tionghoa tapi sudah ditinggalkan oleh para penghuninya. Bentuk bangunan untuk melakukan perniagaan memiliki berbagai bentuk yang disesuaikan dengan strata sosial masyarakat Tionghoa.

Menurut Sugiri Kustedja, saran untuk pemerintah daerah yaitu sebaiknya pelestarian budaya harus tetap dipertahankan oleh masyarakat sebab jika dilihat sejarahnya bahwa masyarakat Tionghoa memiliki peran besar dalam kehidupan sosial di Bandung. Meskipun, niat walikota bagus untuk memajukan kehidupan sosial masyarakat bandung.


Kritik
Dalam acara Jejak Wisata Kawasan Perniagaan Pecinan di Bandung ini merupakan kegiatan bersifat positif untuk mengetahui letak-letak peninggalan masyarakat Tionghoa baik tempat tinggalnya, tempat ibadahnya muapun tempat masyarakat Tionghoa mencari nafkah untuk mempertahankan hidup. Namun, acara yang dilaksanakan pada Minggu, 30 Agustus 2015 ini dijelaskan bukan oleh ahli sejarah melainkan arsitek yang bernama Sugiri Kustedja. Dalam hal ini, menunjukkan bahwa sumber-sumber yang kami kunjungi belum dapat dipercaya sepenuhnya. Selain itu, dalam menyampaikan informasi pemateri tidak merujuk pada sebuah buku melainkan menggunakan pengalaman pribadi pemateri yang mendapat informasi melalui wawancara dengan keturunan Tionghoa.

Latar Belakang Acara Jejak Wisata Kawasan Perniagaan Pecinan di Bandung

Kota Bandung merupakan kota urban yang memiliki berbagai macam jenis masyarakat. Dalam Peraturan Daerah No. 19 tahun 2009 mengesahkan bahwa kelenteng Vidhara Samudra Bhakti merupakan cagar budaya yang termasuk dalam kelas A memiliki makna yang sangat penting dalam sejarah kota Bandung.

Kata Pecinan di Bandung sebenarnya tidak ada sebab masyarakat Tionghoa tidak memiliki pemukiman yang berdekatan tapi pada kenyataannya berjauhan. Namun, memang benar kalau masyarakat Tionghoa memiliki kawasan perniagaan pecinan di Bandung.


Manfaat Acara Jejak Wisata
Kota Bandung merupakan kota urban yang dibentuk dari koloborasi antara orang Sunda, Belanda, sebagian orang India, Arab dan Tionghoa sehingga memberikan pemahaman masyarakat urban yang pluralisme. Selain itu, pertemuan yang diadakan tersebut memperluas adanya lalu lintas transportasi kemudian mengakibatkan kerusakan lingkungan sehingga masyarakat Bandung harus diberikan pemahaman adanya keberagaman etnis di Bandung sebab dengan begitu Bandung akan memiliki kekuatan yang besar untuk menghadapi maslah perekonomian dunia.
Bandung menjadi kota internasional sebab pada sejarahnya Bandung pernah diperkenalkan kepada dunia melalui Konferensi teh pada Hindia Belanda dan Konferensi Asia Afrika. Dalam hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah mempertahankan kerjasama antara pemerintahan, masyarakat, dan komunitas bersatu berkumpul untuk melihat wajah kota Bandung yang diusulkan pemerintahan kota yang ada dalam Peraturan Daerah No. 19 tahun 2009.

Harapan
1.      Kesadaran masyarakat mengenai kota Bandung akan lebih tinggi. Selain itu, masyarakat juga mengetahui perkembangan dan perubahan apa saja yang terjadi di Bandung sebab kota merupakan kampung dunia. Jadi, masyarakat Bandung bisa sadar bahwa kota ini merupakan kota Internasional.

Tujuan
1.      Suatu komunitas bernama Bandung Heritage bekerjasama dengan Yayasan Dana Sosial Priangan salah satunya anggotanya Bapak Sugiri yang mengusulkan bahwaarsitektur Vihara Samudra Bhakti merupakan Kelenteng Kelas A berdasarkan UU no. 19 tahun 2009 Peraturan Daerah yang dijadikan Cagar Budaya Bandung.
2.      Pada masa Hindia Belanda kelenteng dirancang oleh pemerintahan Hindia Belanda untuk tempat beribadah masyarakat Tionghoa. Dalam pembangunan kelenteng, orang Tionghoa berperan penting dalam pembuatan kelenteng tersebut dengan bentuk yang disesuaikan dengan budaya masyarakat Tionghoa. Selain itu, acara ini disepakati oleh Graha Surya Priangan untuk menunjukkan kepada orang Bandung sejarah Bandung. secara umum, masyarakat Bandung hanya mengetahui bahwa sejarah kota Bandung hanya ada unsur orang Belanda, Sunda, India, Arab. Akan tetapi, sesungguhnya orang Tionghoa juga memiliki peran besar dalam sejarah Bandung.
3.      Pelaksanaan ini juga bertujuan untuk menunjukkan Cagar Budaya Tionghoa. Maka Heritage membuat program update budaya pecinan perniagaan. Kenapa? Karena pada zaman Hindia Belanda tidak diatur pecinan namun bangunan tersebut terjadi karena berjalannya waktu.
4.      Pada tahun 1870-an Bandung sudah tidak dibatasi lagi orang luar bisa masuk ke Bandung dengan mudahnya. Pada perang Dipenogoro tahun 1830 masyarakat Bandung hanya 190 juta. Namun, setelah tidak dibatasi bertambah semakin banyak orang Tionghoa datang ke Bandung.

5.      Dalam sumpah pemuda wilayah Hindia Belanda mempunyai tiga prinsip. Hal itu diketahui oleh orang Tionghoa melalui pendidikan sehingga mengetahui bahasa Indonesia. Ketika itu, orang Tionghoa hanya mengetahui kerajaan. Namun dengan adanya pendidikan orang Tionghoa mengetahui adanya gabungan dari kerajaan akhirnya Tionghoa kabur dari dataran Tionghoa dan sadar bersatu melawan penjajah. Namun, pada pemerintahan orde Baru, ketika kejadian G30S/PKI Indonesia melarang masyarakat Tionghoa untuk melakukan upacara ritual, bahasa mandarin sebagai bahasa resmi Tionghoa. Akhirnya, berdampak kepada keturunan Tionghoa yang tidak mengetahui bahasa Mandarin.

Selasa, 27 September 2016

LINGUISTIK BANDINGAN HISTORIS

A.                Pengertian Linguistik Bandingan Historis adalah suatu cabang dari ilmu Bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu serta perubahan-perubahan unsure bahasa yang terjadi dalam bidang waktu tersebut. Cabang ilmu ini mempelajari data-data dari suatu bahasa dari dua periode atau lebih lalu diperbandingkan secara cermat untuk memperoleh kaidah-kaidah perubahan yang terjadi dalam bahasa itu.

Bahasa adalah suatu alat pada manusia untuk menyatakan tanggapannya terhadap alam sekitar atau peristiwa-peristiwa yang dialami secara individual atau secara bersama-sama. Studi perbandingan bahasa ialah suatu karya yang bersifat universal untuk menemukan kenyataan-kenyataan bagaimana bangsa-bangsa di dunia sejak dahulu memandang dunia sekitarnya yang disimpan dalam bahasanya masing-masing.

B.                 Tujuan Linguistik Bandingan Historis
Seperti halnya ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, Linguistik Bandingan Historis juga mempunyai suatu tujuan. Dengan memperhatkan luas lingkup Linguistik Bandingan Historis tersebut, dapat dikemukakan tujuan dan kepentingan Linguistik Bandingan Historis sebagai berikut:
1)      Mempersoalkan bahasa-bahasa yang serumpun dengan mengadakan perbandingan mengenai unsure-unsur yang menunjukkan kekerabatannya. Bidang- bidang yang digunakan untuk memperbandingkan ialah fonologi dan morfologi.
2)      Mengadakan rekonstruksi bahasa-bahasa yang ada pada sekarang kepada bahasa purba atau berusaha menemukan bahasa proto yang menurunkan bahasa-bahasa modern.
3)      Mengadakan pengelompokkan (sub-grouping) bahasa-bahasa yang termasuk dalam suatu rumpun bahasa.
4)      Menemukan pusat-pusat penyebaran bahasa proto dari bahasa kerabat, serta menentukan gerak migrasi yang pernah terjadi pada masa lampau.

C.                Klasifikasi Genetis
Klasifikasi genetis disebut juga klasifikasi geneologis, dilakukan berdasarkan garis keturunan bahasa- bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa pro ( bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih. Lalu, bahasa pecahan ini akan menurunkan pula bahasa- bahasa lain. Kemudian bahasa- bahasa lain itu akan menurunkan lagi bahasa- bahasa pecahan berikutnya.
Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti yaitu atas kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Bahasa- bahasa yang memiliki sejumlah kesamaan seperti itu dianggap berasal dari bahasa asal atau bahasa proto yang sama. Apa yang dilakukan dalam klasifikasi genetis ini sebenarnya sama dengan teknik yang dilakukan dalam linguistik historis komparatif, yaitu adanya korespondensi bentuk (bunyi) dan makna. Oleh karena itu, klasifikasi genetis bisa dikatakan merupakan hasil pekerjaan linguistik historis komparatif. Klasifikasi genetis juga menunjukkan bahwa perkembangan bahasa- bahasa di dunia ini bersifat divergensif, yakni memecah dan menyebar menjadi banyak, tetapi pada masa mendatang karena situasi politik dan perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih, perkembangan yang konvergensif tampaknya akan lebih mungkin dapat terjadi.

Klasifikasi semua bahasa di dunia yang dikembangkan oleh Linguistik Bangdingan Historis adalah sebagai berikut.
No
Rumpun
Bahasa
1 Indo-Eropa German, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavia, Roman, Keltik, Gaulis
2 Semito-Hamit (1) Semit: Arab, Etiopik, Ibrani, (2) Hamit: Koptis, Berber, Kushit, dan Chad
3 Chairi- Nil (1) bahasa Bantu: Luganda, Swahili, Kaffir,   Subiya, Zulu, Tebele, (2) Khoisan: Bushman, Hottentot
4 Dravida Telugu, Tamil, Kanari, Malayalam, Brahui
5 Austronesia Indonesia, Melanesia, Polinesia
6 Austro-Asiatik Mon-Khmer, Palaung, Munda, Annam
7 Finno-Ugris Hungar, Lap, Samoyid
8 Altai Turki, Mongol, Machu-Tungu Ada pertalian antara Finno-Ugris dan Altai yaitu Ural-Altai: Jepang, Korea
9 Paleo- Asiatis bahasa-bahasa di Siberia
10 Sino-Tibet Cina, Tai, Tibeto-Burma, Yenisei-Ostyak
11 Kaukasus Kausakus utara dan selatan (Georgia)
12 Indian Eskimo-Aleut, Na-Dene, Algonkin-Wakashan, Hokan, Sioux, Penutian, Aztek-Tanoan, Maya
13 Bahasa lainnya Irian, Australia, Kadai

D.                Ciri-ciri Klasifikasi Genetis
Klasifikasi genetis mempunyai cirri-ciri sebagai berikut : non-arbitrer, ekshaustif, dan unik.
1.      Non-Arbitrer                       : berdasar garis keturunan. Bahasa-bahasa yang dianggap diturunkan  dari bahasa-bahasa yang lebih tua, dan bahasa-bahasa yang lebih tua selanjutnya akan diturunkan lagi dari bahasa-bahasa yang lebih tua sebelumnya.(ciri fonologis dan morfologis).
2.      Ekshaustif (tuntas)             : semua bahasa memiliki kelompok rumpun bahasa. Tidak ada bahasa yang tidak dimasukkan dalam kelompok-kelompok tadi, sehingga tidak ada yang tersisa.
3.      Unik                                  : tiap bahasa jelas kedudukannya pada kelompok mana, hanya dapat memiliki keanggotaan tertentu dan tidak mungkin masuk menjadi anggota rumpun bahasa yang berlainan.

E.                 Sejarah Linguistik Bandingan Historis
a.      Periode I (1830-1860)
  • Franz Bopp merupakan tokoh peletak dasar-dasar ilmu perbandingan bahasa. Ia membandingkan  akhiran-akhiran kata kerja dalam bahasa Sangsekerta, Yunani, Latin, Persia, dan German yang diterbitkan tahun 1816.
  • Rasmus Kristian Rask pada tahun 1818 menerbitkan buku tentang asal-usul bahasa Eslandia. Ia membandingkan bahasa German, terutama German Utara dengan bahasa Baltik, Slavia, dan Keltik, serta dimasukkan bahasa Baskia dan Finno-Ugris. Penemuannya yang terpenting adalah Pertukaran Bunyi (Lautverschiebung) antara bahasa Germa dan bahasa Latin-Yunani.
  • Jakob Grimm menyempurnakan hubungan-hubungan bunyi tersebut. Pada tahun 1819 ia menerbitkan buku Deutsche Grammatik.
  • Friedrich Vonschlegel pada tahun 1808 berhasil menetapkan bahasa Sangsekerta, Yunani, Latin, Persia, dan German menjadi bahasa Fleksi .
  • F. Pott dalam periode ini mengadakan penyedilikan estimologis kata-kata dengan metode yang lebih baik.
  • Wilhelm Von Humboldt mengemukakan klasifikasi bahasa di dunia menjadi bahasa isolatif, fleksi, aglutinatif, dan inkorporatif.

b.      Periode II (1861-1880)
  • August Schleicher dalam bukunya Compendium der vergleichenden Grammatik  mengemukakan pengertian baru Ursprache (Proto Language) yaitu bahasa tua yang menurunkan bahasa kerabat.
  • Curtius berhasil menerapkan metode perbandingan untuk filologi klasik, khususnya bahasa Yunani.
  • Max Muller berhasil memperluas horizon pengetahuan ilmu bahasa lewat bukunya Lectures in the Science of Language (1861), ia memperkenalkan analisis dan sintesis untuk bahasa isolatif dan fleksi, sedangkan D. Whitney menambahkan polisintesis untuk bahasa inkorporatif.

c.       Periode III (1880-akhir abad XIX)

  • K.Brugmann, Osthoff, Leskien merupakan kelompok tata bahasa yang menamakan dirinya  Jungrammatiker yang muncul setelah tahun 1880, mereka tertarik dengan kaidah bunyi Jakob Grimm. Aliran ini bergerak di Leipzig, salah satu muridnya adalah Leonard Bloomfield yang menjadi linguis Amerika.
  • J. Schmidt mencetuskan sebuah teori baru yang disebut Wallentheorie. Ia kemudian melhirkan Hukum Verner.
  • Hermann Paul menerbitkan buku Prinzipien der Sprachgeschichte (1880).
  • H. Steinthal mencoba membagi bahasa dengan landasan psikologi.
  • Fr. Muller menerbitkan bukunya Grundriss derSprachwissenschaft (1876-1888)

 d.      Periode IV (awal abad XX)
  • Fonetik berkembang sebagai suatu studi ilmiah.
  • Muncul cabang linguistik baru yaitu Psikolinguistik dan Sosiolinguisitik
  • Muncul aliran Praha sebagai reaksi terhadap studi bahasa yang terlalu   halus sampai pada bahasa individual (idiolek)

Senin, 08 Agustus 2016

Dekontruksi Dongeng Sangkuriang jeung Maling Kundang

Dekontruksi Dongeng Sangkuriang jeung Maling Kundang
Ku: Ari Karnanda
Kacaritakeun zaman baheula di hiji desa di tatar parahiyangan aya hiji kulawarga salaki pamajikan nyaѐta Kang Toyib – Dayang Sumbi, harita manѐhna boga anak lalaki ngan hiji-hijina, nu dibѐrѐ ngaran si Sangkuriang.

Kang Toyib bapana si Sangkuriang tѐh inidit rѐk neangan pagawѐan ka sabrang ka Palѐmbang. Tapi geus sapuluh taun lilana si Kang Toyib teu balik-balik ka imah. Pondok carita si Sangkuriang geus gede di titah ku indungna Dayang Sumbi pikeun nyusul bapana si Kang Toyib ka Palembang.

Barang nepi di Palembang, geus nѐang kaditu kadieu teu kapanggih waѐ ѐta si Kang Toyib tѐh, nu akhirna lainna panggih jeung bapana tapi kalahka panggih jeung jodona. Kacaritakeun si Sangkuriang menangkeun putri raja nu kacida bengharna. Sapuluh tahun tidinya, si Sangkuriang teu balik-balik ka imah da geus ngarasa merenah sarta naon nu dipikahayang bisa kacumponan. Harita Dayang Sumbi tѐh kesel geus nungguan sakitu lilana eweuh torojol waѐ balik, akhirna Dayang Sumbi indit nyusul si Sangkuriang ka Palembang.

Sanepina di Palembang Dayang Sumbi neangan si Sangkuriang, tatanya kaditu kadieu nu akhirna aya bѐja yѐn si Sangkuriang geus kawin jeung putri raja. Hiji mangsa si Sangkuriang inidit ka pasar manѐhna panggih jeung wanoja nu kacida geulisna, geulis nu kawanti-wanti nu matak narik kana ati, harita dina jero hatѐna si Sangkuriang “Duh ѐta wanoja meni kuatka geulis-geulis teuing, kuring kudu bisa menangkeun ѐta wanoja”, sanajan manѐhna geus boga pamajikan tapi teuing kunaon harita si Sangkuriang bet hayang menangkeun wanoja ѐta.

Caritana si Sangkuriang nyamperkeun ѐta wanoja, tuluy pok tѐh langsung ngomong yѐn manѐhna hayang ngawin ѐta wanoja, sihorѐng wanoja nu dipikahayang ku si Sangkuriang tѐh indungna sorangan, Dayang Sumbi nu awѐt ngora kusabab manѐhna geus pernah ngadahar daging si Tumang, jadi sanajan geus kolot gѐ angger ragana mah ngora kѐnѐh. Dayang Sumbi geus apal tianggalna yѐn ѐta tѐh si Sangkuriang anakna sorangan. Kusabab kitu, Dayang Sumbi teu narima ajakan si Sangkuriang nu menta kawin jeung manѐhna. Teu tarima si Sangkuriang di tampik ku wanoja ѐta, akhirna si Sangkuriang ngancam lamun teu bisa kawin jeung manѐhna ѐta wanoja bakal di teuleumkeun ka laut.

Harita Dayang Sumbi teu bisa nolak kusabab si Sangkuriang jeung ajudan-ajudan karajaan lengkep bari marawa tombak jeung pedang, lamun kahayang si Sangkuriang teu diturut lain teu mungkin ѐta tombak jeung pedang bisa nuncleb dina diri Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi boga pisarat pikeun si Sangkuriang, pѐk manѐhna bisa dikawin ku si Sangkuriang asal kudu dijieunkeun parahu pikeun manѐhna indit jang bulan madu, dina waktu sapeuting kudu jadi ѐta parahu tѐh. Teu loba ngѐlak deui si Sangkuriang langsung nyanggupan ѐta sarat Dayang Sumbi.

Peutingna si Sangkuriang ngumpulkeun bala tentarana pikeun nyieun parahu, barang wanci maju ka subuh, ѐta parahu geus rѐk anggeus. Si Sangkuriang bungah pisan manѐhna tѐrѐh nganggeuskeun ѐta parahu. Tapi kusabab Dayang Sumbi mah sakti akhirna saacan ѐta kapal rѐngse kabѐh, tuluy kedal weѐh uucapan Dayang Sumbi “Sangkuriang, saѐstuna kuring tѐh indung manѐh, kuring teu bisa kawin jeung anak sorangan, Jadi Batu Siah!”, gleger......!! Dibarѐngan ku sora guludug jeung kilat nu meulah langit, jadi poѐk, tidinya si Sangkuriang di kutuk jadi Batu!.

***

Paribasa Basa Sunda

 Ini merupakan beberapa contoh Paribasa Basa Sunda


1. Amis Budi = Hade budi, teu weleh seuri ka batur.
2. Amis Daging = Babari kakeunaan ku panyakit kulit, contona borok.
3. Atah Anjang = Langka nganjang ka batur atawa ka tempat-tempat lianna.
4. Ayeum Tengtrem = Senang hate, teu boga kasieun atawa kahariwang.
5. Babalik Pikir = Sadar tina kasalahan.
6. Beak Dengkak = Geus ihtiar rupa-rupa tapi teu hasil.
7. Bengkok Tikoro = Teu kabagean dahareun lantaran elat datang.
8. Beurat Birit = Kedul, hese dititah.
9. Bodo Alewoh = Bodo tapi daek tatanya.
10. Buntut Kasiran = Pedit, koret, hese mere ka batur.
11. Cueut Ka Hareup = Jelema nu geus kolot.
12. Dogdog Pangrewong = Saukur omongan panambah. (Ngagosip)
13. Elmu Ajug = Mapatahan batur bari sorangan teu bener.
14. Epes Meer = Babari ceurik, babari peunggas harepan.
15. Gantung Denge = teu anggeus anu didengekeun.
16. Gantung Teureuyeun = henteu cacap barang dahar, lantaran kadaharanna kurang.
17. Gede Hulu = Sombong, Adigung.
18. Getas Harupateun = Babari nuduh atawa ngahukum.
19. Gurat Batu = Mawa karep sorangan.
20. Hampang Birit = Babari dititah, henteu kedul.
21. Hampang leungeun = Babari neunggeul.
22. Handap Lanyap = Ngomongna hade padahal maksudna ngahina.
23. Harewos Bojong = Ngaharewos tapi kadenge ku batur.
24. Haripeut ku teuteureunyeun = Babari kapincut ku pangbibita.
25. Hawara Biwir = Bebeja ka batur samemeh dipigawe.
26. Hejo Tihang = resep pipindahan.
27. Heuras Genggerong = Ngomongna kasar.
28. Heureut Pakeun = Saeutik Pangaboga.
29. Indit Sirib = Indit sakulawarga.
30. Kawas Gaang Katincak = jempe, teu ngomong.
31. Kawas beueuk beunang mabuk = jempe/ ngeheruk teu ngomong.
32. Kawas Anjing tutung buntut = Teu daek cicing.
33. Kembang Buruan = Budak keur meujeuhna resep ulin diburuan.
34. Kokolot Begog = Niron-niron omongan atawa kalakuan kolot.
35. Kurung Batok = Tara liar ti imah, tepika teu nyaho nanaon.
36. Laer Gado = Resep barang penta.
37. Lesang Kuras = Geus teu boga nanaon.
38. Leuleus Awak = Resep barang gawe.
39. Leumpeuh Yuni = Teu kuat nenjo nu pikasieuneun/ pikareuwaseun.
40. Leutik Burih = Kurang kawani, sieunan, borangan.
41. Lungguh Tutut = Katenjona lungguh/ cicingeun padahal saenyana henteu.
42. Miyuni Kembang = Loba nu mikaresep.
43. Murag Bulu Bitis = Resep indit-inditan.
44. Ngabuntut Bangkong = Teu puguh tungtungna, teu tep ka rengse.
45. Ngegel Curuk = Teu menang hasil.
46. Ngeplek Jawer = Teu boga kawani, sieunan, elehan.
47. Ngijig Sila = Henteu satia.
48. Nyoo Gado = Ngunghak, ngalunjak.
49. Panjang Lengkah = Loba pangalaman.
50. Pindah Pileumpangan = Robah kalakuan.
51. Saur Manuk = Ngomong rampak/ bareng.
52. Tuturut Munding = Nurutan batur bari teu nyaho maksudna.
53. Era Paradah = Era ku kalakuan batur.
54. Geulis Gunung = Katingali ti jauhan alus tapi beh dekeut goreng.

Senin, 21 Desember 2015

Jurnal Budaya Populer dan Realitas Media

BUDAYA POPULER DAN REALITAS MEDIA
Oleh : Teguh Imanto



Abstraks 
Lahirnya modernisasi kehidupan telah banyak merubah cara pandang dan  pola hidup masyarakat, sehingga peradaban yang terlahir adalah terciptanya budaya masyarakat konsumtif dan hedonis dalam lingkungan masyarakat kapitalis. Fenomena ini tidaklah dianggap terlalu aneh, untuk dibicarakan dan bahkan sudah menjadi bagian dari budaya baru hasil dari para importir yaitu para penguasa industri budaya yang sengaja memporak porandakan tatanan budaya yang sudah mapan selama bertahun tahun menjadi bagian dari jatidiri bangsa Indonesia itu. Tergesernya budaya setempat dari lingkungannya disebabkan oleh Kemunculannya sebuah kebudayaan baru yang konon katanya lebih atarktif, fleksibel dan mudah dipahami sebagian masyaraka, bahkan masyarakat rendah status sosialnyapun dapat dengan mudah menerapkannya dalam aktifitas kehidupan. Sebuah istilah ”Budaya Populer” atau disebut juga dengan ”Budaya Pop”, dimana budaya ini dalam pengaktualisasiannya mendapat dukungan dari penggunaan perangkat berteknologi tinggi ini, sehingga dalam penyebarannya begitu cepat dan mengena serta mendapat respon sebagian besar kalangan masyarakat. Budaya ini tumbuh subur dan cepat mengalami perkembangan yang cukup segnifikan dalam masyarakat perkotaan dan keberadaanya sangat kuat pada kehidupan kaum remaja kota. Penyiaran Televisi yang dituduh oleh masyarakat, sebagai biang kerok atas retaknya budaya luhur negeri ini dalam taraf yang sangat memprihatinkan. Melalui tayangan acaranya tercermin budaya impor yang telah dikonstruksi makna dan nilainya itu, telah menawarkan budaya baru hasil biasan dari budaya barat yang mengusung pola keglamoran hidup dalam masyarakat kapitalis. Hegemoni budaya yang tercermin dalam realitas kehidupan dengan praktik-praktiknya kini telah mengambil alih budaya luhur dan norma kesantunan yang sudah mapan warisan dari nenek moyang menjadi budaya baru sebgai cerminan realitas palsu yang berkembang di masyarakat merupakan dampak dari tayangan televisi yang ada.


Kata Kunci : Budaya Populer, Televisi, Gaya hidup, Hegemoni

Baca Juga: Teori Hegemoni

Pendahuluan
Gencarnya arus globalisasi yang menerjang ke berbagai negara termasuk Indonesia, dan dalam waktu bersamaan hadirnya kecanggihan teknologi telah banyak membantu dalam penyebarannya. Kenyataan ini berimplikasi pada perubahan pradigma masyarakat dalam menyikapi suatu kehidupan. Realitas kehidupan masyarakat dewasa ini, telah melahirkan loncatan peradaban tiga langkah kedepan dibandingkan dengan seperempat abad peradaban sebelumnya. Lahirnya modernisasi kehidupan di berbagai belahan dunia, telah banyak merubah cara pandang dan pola hidup masyarakat, sehingga peradaban yang terlahir adalah terciptanya budaya masyarakat konsumtif dan hedonis dalam lingkungan masyarakat kapitalis. Fenomena ini tidaklah terlalu aneh bin ajaib untuk diperbincangkan, dan bahkan pradigma dan  pola hidup masyarakat kini, telah masuk dalam praktik-praktik kehidupan serta telah menjadi bagian dari munculnya budaya baru. Keberadaan budaya baru ini merupakan hasil dari para importir penguasa media, yang sengaja memporak porandakan tatanan budaya yang sudah mapan selama bertahun-tahun menjadi bagian dari jatidiri bangsa, hasil warisan dari para pendiri bangsa ini sebelumnya. Dalam penglihatan kita sehari-hari, telah terlontar suatu pertanyaan berbunyi berapa banyak dan berapa macam hadirnya “budaya asing” lewat sosok-sosok yang mengatas namakan dirinya bagian dari “masyarakat modern” bertebaran di sekitar lingkungan dimana kita berada?. Keanehnya mengisyaratkan bahwa keberadaan budaya baru ini telah mendominasi dan memegang kendali dalam realitas kehidupan serta mampu melindas sedikit demi sedikit dan akhirnya menggeser budaya lokal hingga tersudutkan dan terlempar dari lingkungan masyarakatnya. Tanpa disadari, bahwa kita telah terjebak dalam perangkap suguhan praktik-praktik yang mengusung “budaya asing” itu, telah memaksa menjadi bagian hidup dari masyarakat modern, hingga melahirkan suatu istilah “gaya hidup” sebagai simbol atau ikon masyarakat modern. Kenyataan ini menjelaskan bahwa pradigma tentang suatu “gaya hidup” yang sudah membudaya dan menjadi ikon dari masyarakat modern itu, sudah menyusup dan memprovokasi masyarakat dengan menjelma dan menyatu menjadi figur-figur pencari sensasi dalam ruang hiruk pikuk dan berkecamuknya pernik-pernik beradaban di tengah keragaman pola hidup masyarakat modern. Fenomena yang terjadi merekam suatu realitas kehidupan yang mengisyaratkan kekontrasan hidup dalam jatidiri bangsa Indonesia, betapa tidak  terkadang kita mengeleng-gelengkan kepala, entah pikiran apa yang ada di dalam otak kita tatkala melihat gaya penampilannya yang mengundang sejuta tanda tanya. Lihatlah penampilannya para eksekutif muda dengan keharuman parfum Axe telah bercengkramah dalam suasana alunan musik Jazz di salah satu sudut ruangan Cafe “American Style”. Anak-anak muda dengan potongan rambut jambul yang di cat berwarna-warni dan berakhir dengan kucir di belakng kepala, bagai burung Cendrawasih dan Segerombolan anak muda berambut Punk, suatu gaya rambut model kulit duren dengan dihiasi atribut pernik-pernik dari metal itu, telah nongkrong di bawah jembatan layang Roxy Mas. Para remaja putri telah berpakaian seronok, celana ketat dengan mengumbar pusernya terlihat menganga dalam adu suara di atas pentas. Para pasangan ABG dengan model rambut jagungnya telah bermesraan dan berangkulan seenaknya sendiri di tempat umum “Mbok Rondho Plaza”, tanpa ada rasa malu di dalam dirinya. Serta sederetan fenomena-fenomena paradoks dalam “gaya hidup” yang hadir di tengah-tengah kehidupan kita.

Hadirnya arus globalisasi ditengah-tengah masyarakat kita telah membawa dampak besar terhadap keberadaan kebudayaan setempat. Tergesernya budaya setempat dari lingkungannya, disebabkan oleh kemunculannya sebuah kebudayaan baru yang konon katanya lebih atraktif, fleksibel dan mudah dipahami sebagian masyarakat. Sebuah istilah ”Budaya Populer” atau disebut juga dengan ”Budaya Pop”, di mana dalam pengaktualisasiannya telah mendapat dukungan dari penggunaan perangkat berteknologi tinggi ini, sehingga dalam penyebarannya begitu cepat dan mengena serta mendapat respon sebagian besar kalangan masyarakat. Dalam memperbincangkan dan mewacanakan ”Budaya Populer”, selalu dihadapkan pada intepretasi multi persepsi hingga menimbulkan penafsiran yang beragam. Suatu penafsiran yang terbanyak diungkap di berbagai wacana mengenai definisi budaya populer tersebut adalah sebuah budaya ataupun produk budaya yang disukai dan disenangi oleh masyarakat. Budaya populer sering dianggap sebagai suatu kebudayaan instan yang cenderung melawan “suatu proses”, sehingga golongan masyarakat yang bersebrangan dengannya, mengagap sebagai budaya dengan peradaban dangkal pemikiran, tanpa nilai, makna kabur, cari sensasi, berperilaku rusak dan masyarakatnya berjiwa konsumtif dan hedonis.
Dalam perspektif industri budaya, “bahwa budaya populer adalah budaya yang lahir atas kehendak media” (Sunarti 2003).

Hal ini dianggap bahwa Media telah memproduksi segala macam jenis produk budaya populer yang dipengaruhi oleh budaya impor dan hasilnya telah disebarluaskan melalui jaringan global media hingga masyarakat tanpa sadar telah menyerapnya.

Dampak dari hal itu, menyebabkan lahirlah perilaku yang cenderung mengundang sejuta tanya, karena hadirnya budaya populer di tengah masyarakat kita, tak lepas dari induknya yaitu media yang telah melahirkan dan membesarkannya. Media dalam menjalankan fungsinya, selain sebagai penyebar informasi dan hiburan, juga sebagai institusi pencipta dan pengendali pasar produk komoditas dalam suatu lingkungan masyarakat.

Dalam operasionalisasinya, media selalu menanamkan ideologinya pada setiap produk hingga obyek sasaran terprovokasi dengan propaganda yang tersembunyi di balik tayangannya itu. Akibatnya, jenis produk dan dalam situasi apapun yang diproduksi dan disebarluaskan oleh suatu media, akan diserap oleh publik sebagai suatu produk kebudayaan, dan hal ini berimplikasi pada proses terjadinya interaksi antara media dan masyarakat.

Kejadian ini berlangsung secara terus menerus hingga melahirkan suatu kebudayaan berikutnya. Kebudayaan populer akan terus melahirkan dan menampilkan sesuatu bentuk budaya baru, selama peradaban manusia terus bertransformasi dengan lingkungannya mengikuti putaran jaman. 
Dampak siaran televisi yang dilansir secara gencar dengan model Budaya Populer lewat keragaman tayangannya, akan membentuk pradigma dan gaya hidup masyarakat dengan perilaku yang mengusung kecenderungan berjiwa materialis dan hedonis dalam lingkunganmasyarakat kapitalis.

1. Kekaburan Makna dan Pergeseran Nilai
Kata “Budaya Populer” merupakan penggabungan dari dua kata yaitu kata “Budaya”, dan yang satunya lagi “Populer”. Sementara kata Budaya dapat diartikan ”segala sesuatu untuk mengacu pada suatu proses umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis” (Williams, 1983). Rumusan ini merupakan rumusan budaya yang paling mudah dipahami, dengan mengaitkan tentang perkembangan budaya Eropa Barat dengan merujuk pada faktor-faktor intelektual, spiritual, estetis seperti pernyataan para filsuf besar, seniman, dan budayawan terutama pada masa pasca era industrialisasi. Kata lain juga bisa berfungsi sebagai “pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau kelompok tertentu” (Williams, 1983). Pernyataan ini menegaskan bahwa kebudayaan adalah pandangan hidup seseorang dalam melaksanakan kehidupan bermasyarakat, di mana pegangan hidup sebagai faktor pengendalian, bisa berwujudkan pada aturan-aturan tertentu yang diyakini dan disepakati bersama pada suatu masyarakat sebagai pedoman atau pegangan hidup dan juga terikat oleh aturan-aturan ritual tertentu. Sedangkan kata ”populer”, Williams memberikan ”empat makna yang mengandung pengertian yakni: (1) banyak disukai orang; (2) jenis kerja rendahan; (3) karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang; (4) budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri” (Williams, 1983). Dari dua pengertian kata diatas, maka terdapat suatu pengertian hasil penggabungan kata keduanya, hingga melahirkan definisi baru dan makna baru bernama ”Budaya Populer”. Istilah Budaya Populer dapat juga diterjemahkan dengan pengertian suatu aktifitas atau praktik-praktik sosial yang bisa menyenangkan orang dan disukai oleh banyak orang.

Dalam perspektif kacamata industri budaya, budaya populer juga dinilai sebagai produk kapitalisme yang bersifat massal dan dikelola terus menerus oleh jejaring media di mana jarak jangkaunya hampir tak terbatas dan bahkan bisa menembus batas wilayah suatu negara.

Dalam menjalankan fungsi industrinya, Institusi industri media perlu melakukan penerapan strategi khusus untuk menjaring massa, guna menjalankan ideologinya ”dalam upayanya bertahan hidup, seperti halnya, bisnis lain, media menciptakan beberapa kegiatan yang diperkirakan disukai, dan sekaligus dibutuhkan, masyarakat sebanyak-banyaknya” (Sapardi, 2009).

Dalam kenyataannya media telah memfasilitasi atas tumbuh subur dan berkembangnya budaya populer di tengah masyarakat. Lihatlah beredarnya majalah-majalah yang ada di masyarakat kita, telah memuat keanekaragaman artikel tentang pola hidup dari bangsa-bangsa barat termasuk memuat foto-foto model pakain dan pernik-pernik penunjang gaya hidup ala kebarat-baratan mulai dari tas, kalung, sepatu, jam tangan, cincin serta benda lainnya yang dapat mengundang perilaku para remaja kita cenderung untuk mengkutinya. Para produsen produkpun menyebarkan perangkap melalui iklan media baik cetak maupun elekstronik dengan gambar dan teks yang telah direkonstruksi itu, sehingga membuat target sasaran yang diincar semakin ketagihan dibuatnya. Pada saat yang bersamaan, produsen dan industri media telah menciptakan ajang pentas kaum remaja putri untuk memperebutkan penobatan “Putri Indonesia”, hingga para remaja putri dari seluruh tanah air ini, berlomba-lomba mengikutinya. Kesuksesan ini membuat produsen-produsen lain ikut latah, mereka dengan ideologi dan kekuasaanya telah menciptakan putri yang mengangkat produknya sebagai upaya dalam menciptakan pencitraan brandnya, hingga muncul “Putri Sabun LUX”, “Putri Sabun GIV”, “Putri Martha Tilar”,”Putri Sunslik” dan tidak menutup kemungkinan lahir lagi “Putri-Putri” Remason, Kecap, sambal dan alat penggorengan. Di sisi kaum priapun tak mau ketinggalan, diciptakanlah ajang untuk mereka misalnya “Pria Idaman”, “Prai Kekar”, “Pria Langsing”, “Pria Kribo” dimasa datang mungkin ada “Pria-Pria” Jangkung, cebol, nyentrik, kusam dan dekil.

Produk apapun yang di lahirkan oleh industri media, merupakan suatu penciptaan yang bertujuan untuk menyenangkan masyarakat, meskipun produk tersebut tidak memerlukan daya nalar tinggi, hanya semata-mata pencarian popularitas yang mudah dipahami dan ditiru secara instan olah berbagai kalangan serta hanya pencarian sensasi belaka.

Bukan tidak mungkin di balik kedok-kedok semua itu, terselip propaganda atau penyusupan ideologinya pada setiap produk yang di sebarluaskan kepada masyarakat luas, hingga masyarakat yang menjadi targetnya terbius dalam bujukan dan rayuan hingga terjerat dalam jebakan ideologinya.

Dalam konteks kepentingan bisnis, keberadaan para artis ini diperlakukan tak lebih dari sekadar instrumen komoditas dalam menjalankan fungsi bisnisnya dan sementara itu konsumen hanyalah sebagai obyek sasaran target yang akan di jadikan acuan dalam menciptakan trend pasar dari produk yang dikomersilkan oleh media itu. Suatu bentuk nyata disekitar kita adalah media massa dalam bentuk televisi telah disinyalir sebagai instrumen yang dianggap paling efektif dalam mengakomodir keberlangsungan untuk menghidupkan budaya populer yang disenangi kalangan remaja itu. Sebagai konsekuensinya maka perlu diupayakanlah penyelipan misi propaganda industri ke dalam tayangan televisi, dengan tujuan untuk mencekoki khalayak lewat berbagai macam program acara ala kadarnya yang telah direkonstruksi nilai serta maknanya itu, hingga masyarakat tergila-gila dibuatnya. Etika dalam penyiaran, seharusnya bertujuan untuk pengontrolan acara agar lebih terarah dan mendidik, kini telah dirongrong dengan keputusan praktis dan pragmatis tanpa argumentasi yang kuat dan jelas, hanya demi kepentingan media itu sendiri. Begitu juga tayangan program acara dengan mevisualisasikan tampilan-tampilan yang awalnya santun seperti tampilan kebaya panjang dengan motif visual batik dan tampilan kesenian daerah yang kental dengan budaya ketimurannya, kini tayangan itu telah dilindas oleh program acara dengan menjual tampilan model celana mini ketat yang cenderung seronok sambil mengumbar pusernya terliihat jelas menari-nari di atas stage. Permainan pentas semacam ”festival” seperti Indonesia Idol, Akademi Fantasi, Kontes Dangdut atau unjuk kempuan khusus, itu semua dilakukan dengan cara instan dan prakmatis, tanpa adanya standarisasi kelayakannya sebuah ajang perlombaaan. Juri-juri yang dihadirkan seharusnya berasal dari kalangan akademis dengan penguasaan bidang ilmu tertentu dan standarisasi kriteria penilaian guna menentukan kelayakan juaranya, kini dicomot seenaknya saja tanpa melihat kualifikasi sebagai layaknya seorang juri. Juri hanyalah sebagai tukang-tukang ngomel ngalor-ngidul tanpa kejelasan argumentasi dan hanya ngomong semaunya sendiri tanpa ada standarisasi yang menjadi acuannya. Anehnya keputusan juara tadinya ditentukan oleh para juri yang dihadirkan, kini ditentukan oleh rating tertinggi berdasarkan poling SMS belaka. Media khususnya televisi kini terjebak dalam  suatu permainan membalikkan strata budaya dan tata nilai serta perilaku masyarakat yang sebenarnya, sehingga perancangan program acara ala kadarnya itu, tidak ada lagi standar acuan kebenaran, karena semuanya hanyalah sekedar menciptakan festival, kemeriahan, kemegahan, sensasi, spektakuler dengan permainan kekaburan nilai dan makna. Kalau sudah begini lantas kita mau apalagi ?, maka terkuburlah nilai-nilai kebenaran dengan peraihannya melalui beberapa proses berdasarkan aturan-aturan tertentu, kini semua penerapannya dicomot secara bebas tanpa ada aturan. Itulah sekelumit gambaran dari sekian rentetan panjang tentang ”Budaya Populer” dan keberadaanya begitu mendominasi di tengah masyarakat terutama kaum remaja, hingga budaya lokalpun sedikit demi sedikit tersudutkan dan akhirnya terlempar dari lingkungan masyarakatnya. Melihat gejala dan perkembangan yang begitu liar ini, pantaslah beberapa kalangan sangat mengkhawatirkan tentang penyebarannya, karena sasarannya mencakup cukup luas baik dari kalangan atas, menengah bahkan kalangan masyarakat rendahpun terkena dampaknya. Demikian juga dari usia bisa menyerang anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tuapun masih sempat menikmatinya… sungguh keterlaluan aahhh…

Perilaku serba instan dalam cerminan kekaburan nilai dan makna, telah menggilas budaya lokal yang mengusung nilai kesopanan itu, digantikan dengan perilaku seronok dan jiwa-jiwa materialistik serta hedonistik sebagai jatidiri dari para pelaku Budaya Populer.

2. Media Ciptakan Gaya Hidup Sebagai Cerminan Budaya Populer
Tanpa disadari atau disadari industri media khususnya televisi telah memberikan banyak pengaruh pada manusia, Televisi mampu menggiring alam pikiran manusia hingga pada akhirnya bisa merubah pola hidup, baik yang positif dan negatif di tengah-tengah kehidupan manusia. Segala macam apa yang ditayangkan televisi akan berdampak pada psikologi manusia yang mempunyai kecenderungan untuk meniru apa saja dari pengalaman mereka lihat, dan korbannyapun tanpa pandang bulu dibuatnya, siapapun sasarannya entah anak-anak, remaja, eksekutif muda ataupun orang tua sekalipun, semua bisa terjebak dalam ikatannya. Jika tidak ada pengontrolan yang terarah terhadap sepak terjang televisi dari pihak berwenang di negeri ini, maka kekhawatiran dari banyak pihak akan dampak dari penayangan program acara hasil ciptaan ala kadarnya itu pada masyarakat luas. “Berbagai macam realitas sosial tersebut telah menimbulkan sejumlah pandangan optimistik dan pesimistik di kalangan para ahli media dalam menanggapi tentang pengaruh media di dalam masyarakat“ (Ahmad Zainal Abar, 1997). Pandangan ini melahirkan asumsi bahwa pengaruh tayangan dari industri media televisi akan mempunyai dampak sisi negatif dan sisi positifnya, namun sebagai manusia yang beradab tentunya fungsi pengontrolan itu setidaknya menurunkan sisi negatifnya seminimal mungkin. Tanpa terasa dampak tayangan dari televisi kini sudah mulai nampak di hadapan kita, bahkan tidak hanya nampak saja, akan tetapi sudah merasuk secara dalam dan menyatu dengan diri kita. Betapa tidak kalau kita amati mutu program dari beberapa stasiun televisi, belakangan ini konsep program acara yang dibuatnya terkesan kurang mendidik, sehingga menimbulkan pengaruh yang cukup besar terutama pada kalangan remaja dan anak-anak. Ditemukannya suatu fakta dewasa ini telah banyak perubahan pola hidup masyarakat yang semakin meningkat intensitasnya ke arah konsumtif, glamour, kehidupan seks bebas, telah tumbuh subur di lingkungan remaja perkotaan, bahkan kini telah mengepidemi sampai ke pelosok pedesaan melalui penyebarannya dengan bantuan jaringan media dan teknologi satelit komunikasi. Dari realitas kehidupan tersebut, apa yang mereka terapkan dalam perilakunya itu adalah hasil dari peniruan para artis yang menjadi idolanya, sering muncul di layar kaca lewat acara infotainment. Melalui tayangan inilah para artis mengumbar perilaku seronok dalam pola hidupnya dan pembicaraan dangkal pemikiran, di mana cara ngomongnya seenak udele dewe… tanpa ada tata krama atau “rasa malu” dalam bergaul. Penguraian materi tayangan hanyalah berkisar pada perselingkuhan, perceraian, intimidasi, dan anehnya pemberitaan itu dianggap oleh pengelola media ataupun artisnya merupakan hal yang biasa di kalangan artis. Gilanya lagi adalah sistem penyiarannya menguasai jam penayangan tiap hari mulai dari pagi, siang, sore, petang dan malam hari. Demikian juga tayangan iklan dengan berbagai macam produk kebutuhan mulai dari kebutuhan primer demi kelangsungan hidup sehari-hari sampai dengan kebutuhan mewah demi naiknya identitas diri di mata masyarakat, telah membayang-bayangi dan mencuci otak kita, agar kita ikut larut di dalamnya dan berakhir dengan tindakan untuk membeli dari produk tersebut. Tiap hari dan tiap menit mata kita disuguhi oleh illustrasi dalam kemasan produk yang diiklankan lewat layar kaca itu dan tanpa sadar kita telah terbius oleh rayuan, bujukan serta tipuan yang menggoda pikiran kita untuk membelinya. Perilaku para artis tidak jarang sebagai pemicu tentang tumbuhnya trend center pola hidup di masyarakat. Hal inilah yang mengkhawatirkan sebanyak-banyaknya masyarakat meniru secara mentah-mentah tayangan televisi tanpa ada pengkajian secara mendalam, sebab tingkat pemahaman masyarakat sangat heterogen dan banyak mengandung perbedaan serta pemahamannya “Sebanyak-banyaknya mengandung arti kelompok masyarakat yang memiliki tingkat pemahaman dan pengetahuan yang di bawah rata-rata” (Sapardi, 2009).

Dengan kreatifitas tinggi media televisi dalam mevisualisasikan program tayangannya yang dikemas secara menajubkan dalam alur dramatiknya sebuah cerita, telah mampu menghadirkan suatu realitas dunia maya, menjdi suatu realita baru yang seoalah-olah terlihat dalam kehidupan nyata. Itu semua karena peran media, bagaimana sebuah industri media menciptakan produknya dengan merekonstruksi nilai serta maknanya itu sedemikian rupa berdasarkan misi dari ideologi media tersebut hingga masyarakat tak berkutik dibuatnya. “Dibutuhkan cara dan tehnik untuk menyebarkan dan mempromosikan ideologi. Ideologi bisa disebarkan dengan paksaan dan kekuasaan…” (Ellul. 1973: 194). Kenyataan ini menjelaskan bahwa Ideologi yang disebar luaskan lewat tayangan televisi, adalah melalui sistem kekuasaan. Dengan kekuasan media yang ada dalam genggamannya, maka ideologi yang ditanam lewat tayangan tersebut dapat terserap dengan sendirinya bersamaan dengan penangkapan pesan yang dikomunikasikan kepada masyarakat hingga masyarakat menjadi korbannya atas penyerapan dari tayangannya sebagai representatif dari budaya populer yang di bawa oleh televisi tersebut. Bagi Industri media televisi, tentunya sudah tidak asing lagi menciptakan perangkap acara yang di kemas secara menarik lewat beragam program acara dengan pengkonstruksian nilai dan maknanya serta dilancarkan secara terus-menerus dalam setiap serial komoditas, sehingga pemirsa begitu tergila-gilanya mengikuti apa yang disuguhkan oleh industri media televisi yang pengaksesannya bisa dilakukan kapan saja dengan secara gratis itu. Hal inilah yang dikemukakan oleh Kaum Marxis “… nilai-nilai yang menguntungkan orang-orang yang menjalankan masyarakat, tentang ide-ide yang berkuasa sepanjang masa merupakan hasil dari ide orang yang berkuasa…” (John Storey, 2003). Berbagai macam gaya hidup telah direkonstruksi sedemikian rupa melalui beragam program acara yang mencerminkan kebohongan publik itu, hingga pada akhirnya dapat menimbulkan suatu kebohongan tersembunyi dan tanpa sadar telah menjadi bagian dari realitas kehidupan yang sebenarnya. Suatu penanaman konsep ideologi ke dalam format acara melalui teks-teks media dan makna-makna yang ada di dalamnya serta praktik-praktik budaya telah melahirkan “kesadaran palsu” di dalam persepsi pemirsa. Pola inilah yang menurut Adorno “… sebagai bentuk keberhasilan konspirasi perkawinan antara kapitalisme dengan budaya popular dalam memanpulasi kesadaran masyarakat dengan kesadaran semu. Bagi Adorno, kebudayaan industri merupakan satu bentuk dehumansasi lewat kebudayaan” (Graeme Burton, 2008).
Dampak tayangan televisi akan membentuk gaya hidup dalam masyarakat  kapitalis yang mengusung budaya baru dan akan membentuk perilaku kearah pergaulan bebas dalam kehidupan yang dipenuhi dengan sikap materialistik.

3. Hegemoni Amerikanisasi dalam Masyarakat Kapitalis
Hegemoni dapat diartikan suatu cara penerapan praktek-praktek kekuasaan ideologi yang tak terlihat atau tersembunyi dan tak disadari keberadaannya dalam lingkungan masyarakat. Hegemoni juga bisa diterjemahkan sebagai suatu proses-proses atau praktik-praktik sosial dengan segala macam ide yang telah terkonstruksi milik satu kelompok kelas dominan atau kelas-kelas berkuasa yang ada dan mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi hati dan pikiran seseorang dalam lingkungan masyarakat. Media televisi dengan kekuasaan ideologi di dalamnya yang notabene merupakan representatif dari masyarakat modern, muncul sebagai suatu fenomena kebudayaan baru dalam perubahan realitas sosial masyarakat yang banyak dikonstruksi dan didominasi oleh ide-ide materi Karl Mark. Sepertinya “ide-ide itu dituangkan dalam instrumen-instrumen kapitalis sehingga akhirnya perilaku masyarakat menjadi bagian dari masyarakat kapitalis yang konsumtif serta dari sistem produksi itu sendiri” (Burhan Bungin, 2001 : 25). Realitas ini menegaskan bahwa apapun produk dari media televisi akan menjadi trend center di masyarakat, hingga keberadaanya diperlakukan sebagai “pola hidup” masyarakat modern. Oleh karenanya industri media dan produsen suatu produk, tak henti-hentinya bekerjasama dalam rangka menciptakan suatu program baru dengan bentuk ala kadarnya dalam kualifikasi seenaknya yang penting dapat dengan mudah diserap oleh para penggemarnya walaupun harus menentang aturan-aturan yang ada.

Media massa khususnya televisi telah menjadi alat yang ampuh bagai jargon-jargon simbolik sebagai penarik untuk mempengaruhi alam pikiran serta pandangan masyarakat. Lewat media televisi dengan segala macam isi acaranya, maka “gaya hidup” masyarakatpun dapat tercipta dengan sendirinya dan menerjang siapa saja yang ada didepannnya entah anak-anak, remaja maupun orang tua. Lihatlah ketika film serial heroik ala Amerika seperti Film Spiderman diproduksi dan didistribusikan kesemua negara, maka segala macam pernik-pernik assesoris seperti mainan dalam bentuk patung digandrungi olah anak-anak, demikian juga kaos gambar Spiderman yang sedang melayang di atas kota itu berada dalam dada anak-anak, remaja maupun orang tua menjalar dan beredar di jalan-jalan serta sudut mall maupun tempat lainnya. Kendaraan yang menjadi tumpangannya anak muda tak luput dari modifikasi gambar dari orang yang mempunyai jaring laba-laba itu, atau logo gambar dari kalelawar yang merupakan jelmaan atas manusia kalelawar dari kota gotham itu. Kekuatan ideologi yang ditanamkan oleh media dan telah mewabah dan menghegemoni dalam lingkungan masyarakat dapat menciptakan peluang pasar industri menjadi suatu produk komoditas tersendiri bagi kelompok-kelompok yang berkuasa. Cafe atau semacam restorant yang beredar di plaza atau di mall dengan nama dan pernik-pernik arsitektur ala kebarat-baratan itu, telah menawarkan racun kehidupan kepada remaja kita menjadi insan yang diperbudak dengan keglamouran hidup. Demikian juga departement store yang menjual produk-produk bermerek luar negeri di berbagai tempat telah memprovikasi masyarakat kita untuk hidup mewah hingga lahirlah masyarakat konsumtif dan hedonis.

Inilah yang sudah menjadi suatu resiko dalam memasuki era globalisasi dengan semakin kencarnya arus informasi seluruh jagat yang masuk dalam relung-relung pikiran kita melalui situs sistem teknologi informasi yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa sadar kita telah terjebak dalam praktik-praktik kapitalisme sebagai suatu pola “gaya hidup” modern yang mengikat kehidupan kita ke arah konsumeristik dan materialistik. Sadar atau tidak sadar bahwa segala informasi yang tertanam dalam pikiran kita, telah memaksa kita untuk mengikuti suatu “trend center” yang berkembang di tengah masyarakat, merupakan hasil dari pelansiran Global Kapitalism dalam bentuk budaya populer dengan mengusung potret gaya hidup dunia. Melalui pencitraan produk-produknya itu, hampir setiap hari memancing kita untuk memiliki sesuatu di balik pesan tayangan televisi yang notabene cerminan dari produk luaran wilayah Indonesia itu. Dalam wacana kritik sosial dan budaya yang ada dalam pradigma budaya massa atau budaya populer, bukan hanya sebagai budaya terapan yang tumbuh dengan sendirinya, tetapi juga bisa diidentifikasi sebagai budaya hasil transformasi budaya yang diimpor dari Amerika, “jika kita hendak menemukan suatu produk budaya dalam bentuk modernnya…, lihatlah kota-kota besar Amerika terutama New York”. (Malthy, 1989; 11). Pernyataan bahwa budaya populer merupakan budaya massa Amerika, memang mempunyai sejarah yang panjang dalam pemetaan teoretis budaya populer. Meluasnya budaya massa ala Amerika diberbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, seringkali memunculkan istilah dengan nama ”Amerikanisasi”.

Pesatnya perkembangan teknologi dalam arus globalisasi yang tinggi intensitasnya menerjang bangsa ini, namun sayangnya bangsa ini tidak menyiapkan dan tidak mengimbanginya dengan kualitas pendidikan yang layak, menyebabkan bangsa ini hanya melahirkan insan-insan yang gila akan faham konsumerisme. Para penghuni bangsa ini telah menjadi bangsa yang konsumeristik dan berjiwa hedonis yang gila akan barang-barang semata tanpa mau belajar bagaimana cara barang itu diciptakan dengan kualitas baik. Dunia pendidikan kita tidak dirancang dan diintegrasikan dengan dunia industri yang canggih, sebagai jalan menuju suksesnya kemandirian suatu bangsa, generasi bangsa ini telah dihinggapi dengan cara-cara yang instan, bergaya dan berfoya-foya saja tanpa mau belajar dari pengalaman dan kesuksesan bangsa lain, hingga masyarakatnya menjadi bodoh. Kebodohan itu muncul disebabkan oleh ketololan masyarakat Indonesia sendiri yang lebih suka menyerap gaya hidup dunia barat, tetapi alergi dengan pembelajaran teknologi dari dunia barat itu sendiri, sebagai modal dalam membangkitkan bangsa ini bisa berdiri sama tegak dengan bangsa lainnya.

Suatu ilustrasi akan menggambarkan atau menuntun daya nalar kita agar mau belajar dari suatu pernyataan ini : Karena bodoh maka rakyat tidak bisa mengelolah kekayaan alam yang melimpah, karena bodoh rakyat tidak bisa meningkatkan kualitas kesehatan, karena bodoh rakyat tidak menikmati gizi baik, karena bodoh rakyat dijadikan obyek pembangunan dengan segala cara, Karena bodoh rakyat bekerja dengan kekerasan, karena bodoh rakyat tidak bisa menciptakan barang berkualitas, karena bodoh rakyat tidak bisa membedakan mana baik dan buruk, karena bodoh rakyat tidak bisa berpikir mana benar secara logis dan mana salah kaprah, karena bodoh rakyat mudah terprovokasi, karena bodoh rakyat lebih suka dengan jalan pintas, karena bodoh rakyat lebih suka memakai produk berkualitas dari pada menciptakan kualitas, karena bodoh rakyat lebih suka mengambil punya orang dari pada berkarya cipta, karena bodoh rakyat tidak bisa berbuat apa yang seharusnya dibuat, hingga frustasi kemudian stresss  dan akhirnya bunuh diri.

Apa yang dilansir oleh televisi melalui media elektronik yang hampir tiap hari berdampingan dalam mengarungi kehidupan, telah mengantar kita memasuki suatu gaya hidup modern dalam atmosfir masyarakat kapitalis. Realitas kehidupan merekam dengan kejernihan lensa berpikir, bahwa apa yang selama ini kita lakukan mengarungi hidup, telah dihiasi dengan beragam produk kapitalis sebagai suatu tuntutan gaya hidup yang diidealkan oleh media sebagai bagian dari masyarakat dunia. Berbagai Brand tingkat tinggi seperti Levi’s, Lea, Polo, Seiko, Omega, Rolex, Parker, Nike, Adidas, Reebok, Ferari, Mercy, BMW serta merek-merek lainnya merupakan bagian dari kehidupan para esekutif muda sebagai cerminan bentuk gaya hidup tinggi. Sudah menjadi konsekuensinya dari masyarakat kelas dominan yang mempunyai kekuasaan sebagai pencitraan terhadap identitas diri mereka. “Suatu kelas sosial yang unggul melalui kepemimpinan intelektual serta moral sebagai pemegang kuasa akan terus menerus menekan kelas pekerja yang ada dibawahnya, inilah yang dikatakan oleh Antonio Gramsci tentang hegemoni dalam masyarakat kapitalis” (Chris Barker, 2004).
Realitas kehidupan di masyarakat telah dipenuhi perilaku norak dengan mengusung faham kebebasan, hasil dari hegemoni amerikanisasi dalam membentuk jatidiri budaya populer yang siap meracuni generasi muda negeri ini menjadi generasi goblok yang senang dengan keglamouran hidup semata, tetapi miskin dengan pembelajaran teknologi tinggi.

4. Hilangnya Jatidiri Bangsa Indonesia
Kuatnya serangan media khususnya televisi dengan segala macam bentuk keragaman tayangan, berdampak pada sikap gaya hidup masyarakat yang cederung konsumeristik dan berjiwa hedonis serta menonjolkan berpenampilkan kearah keglamouran hidup. Perilaku santun dan norma-norma kehidupan yang terlahir dari warisan para leluhur bangsa ini, telah terkoyakkan oleh hadirnya budaya populer yang serba instan dan cenderung materialistik itu, telah merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Para generasi insan negeri ini lebih cinta dengan kebudayaan impor ketimbang dengan budayanya sendiri. Para remaja, eksekutif, termasuk para tante girang dan para omm serta orang tua dalam memenuhi kebutuhan hidup, lebih percaya pada produk-produk buatan luar negeri dari pada produk bangsanya sendiri, termasuk pola hidupnya yang jelas-jelas bertentangan dengan ideologi dan falsafah hidup bangsa ini. Bagaimana mungkin menumbuhkan jatidiri bangsa ?, sementara kita tidak mempercayai hasil dari keringat dan pikiran kita sendiri. Bagaimana mungkin membangkitkan semangat kebangsaan sementara ideologi Pancasila dikoyak-koyak dengan hadirnya ideologi lain. Karena jatidiri bangsa yang lemah itulah, membuat insan negeri ini tak berdaya menjadikan Republik Indonesia menjadi sebuah negara yang mandiri dengan kekuatannya sendiri.

Praktik-praktik yang mengusung budaya kapitalispun telah mendominasi dalam lingkungan masyarakat, baik di perkotaaan maupun di pedesaan. Tidak terbantakan lagi akan kebenaran ini, bahwa kita telah berada dalam cengkraman para pemegang kekuasaan industri kapitalis. Perekonomian negeri ini telah dipermainkan oleh para kelompok dominan yang memegang kendali perekonomian nasional hingga perekonomian rakyat makin terpojok dan terlemparkan menungguh nasip perubahan yang tak kunjung datang. Kenyataan ini telah menggambarkan bahwa kebudayaan kita telah dirusak oleh perilaku kebudayaan populer yang dikendalikan oleh kelompok kaum kapitalis. Lunturnya semangat kebangsaan dan pemahaman ideologi bangsanya sendiri, seiring dengan kencangnya arus globalisasi yang melanda negeri ini, dan tanpa sadar telah merubah pola pikir dan gaya hidup kearah kebarat-baratan yang notabene sebagai masyarakat lebih modern. Disini telah terjadi kekaburan makna serta nilai, bahwa makna masyarakat modern dipahami dalam logika yang dangkal dan minimnya daya nalar, hingga pergaulan bebas, tindak kekerasan, perilaku ugal-ugalan, penampilan seronok menjadi kiblat dan reorientasi dalam hidup. Bangsa ini rusak oleh sosok-sosok yang mengatas namakan dirinya bagian dari pelaku dan penyebar kebudayaan populer. Ralitas kehidupan telah mencatat, berapa banyak bayi lahir tanpa pernikahan yang sah ?, berapa kali terjadi tawuran warga, pelajar dan mahasiswa ?, berapa kali kita ditipu oleh janji- -janji para politikus ?, berapa banyak tubuh-tubuh gemulai berpenampilan seronok datang di depan mata kita ?, berapa kali kita dikecewakan dengan keputusan sepihak serta segudang pertanyaan senada disekitar kita. “Keadaan ini disebabkan oleh kenyataan tidak dimaknainya secara benar tentang sistem nilai, wawasan hidup dan sikap yang berlaku di masyarakat selama ini dan tidak dibatinkannya pilar-pilar kebudayaan itu dalam diri setiap anggota masyarakat negeri ini” (Kunjana Rahardi, 2000). Dan ketika kencangnya serangan dari globalisasi beserta dampak yang ditimbulkan, maka kita tak sanggup menahannya.

Analisis retaknya kebudayaan kita itu, dikarenakan kurangnya kesetiaan kita terhadap pilar-pilar penyangga yang tercermin dalam Ideologi Pancasila dan kelima sila yang ada didalamnya, menjadi suatu pandangan hidup dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Begitu banyak jargon-jargon yang diwacanakan sebagai bentuk perwujudan atas terciptanya kesejahteraan rakyat, namun realitasnya berkata lain. Kondisi bangsa ini justru mengalami keterpurukan begitu dalam hingga menimbulkan krisis nasional dalam skala multidimensi, hal tersebut disebabkan oleh tingginya praktik-praktik korupsi-kolusi-nepotisme yang berimbas atas lahirnya garong-garong dalam segala situasi dan kondisi. Banyaknya maling-maling berskala besar di tingkat atas para elite politik dan pemegang kekuasaan. Tidak berdayanya dan lemahmya penegakkan hukum terhadap tindak kejahatan, merupakan wujud nyata dari pengingkaran dan penyimpangan dari Pancasila serta tatanan hidup yang telah dilahirkan oleh para pendahulu bangsa ini didirikan.

Dalam situasi dan kondisi seperti ini, masyarakat rawan dengan tindakan pragmatis dengan caranya sendiri, hal itu disebabkan timbulnya rasa kekecewaan terhadap ketidak mampuan negara dalam menciptakan kesejahteraan yang berpihak kepadanya, hingga pada akhirnya kehilangan jatidiri bangsa. Jatidiri bangsa makin melemah ketika pendidikan Pancasila di hapus dari lingkungan perguruan tinggi. Dan anehnya para rektor yang berkuasa tidak ada yang protes atas keputusan yang keblinger tersebut. Pantas saja generasi penurus negeri ini yang katanya sangat terdidik itu kehilangan moralnya dalam bersosialisasi di masyarakat. Akibatnya generasi yang terlahir adalah Generasi rapuh moralitas, minim nalar dan sangat cekatan dengan keglamouran hidup serta sikap instanis. ”Ketika terjadi krisis tentang jatidiri bangsa, maka masyarakat tidak peduli lagi tentang ideologi bangsanya, karena dianggap tidak berpihak kepadanya dan mencoba mencari-cari ideologi lain termasuk memuja-muja bangsa lain dari berbagai aspek yang mereka pahami dan dengan serta merta caranya sendiri, mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari” (Naya Sujana, 2008). Sebuah krisis jatidiri bangsa ini akan selalu tumbuh dan berkembang seiring dengan pesatnya arus modernisasi dan globalisasi yang menerjang negeri ini, sehingga faham-faham konsumerisme, pragmatisisme, liberalisme, materialisme, kapitalisme dan hedonisme yang berasal dari dunia barat akan selalu meracuni masyarakat negeri ini. Kalau tidak diantisipasi dengan cermat, maka secara lambat laun tercipta krisis moral dan ahklak yang berkelanjutan hingga timbul sikap mentalitas paradoks yang melahirkan lingkungan masyarakat munafik.

Tanpa sadar nilai-nilai kebudayaan kita luntur dalam kehidupan, terlindas dengan praktik-praktik budaya barat yang notabene mengatasnamakan masyarakat modern. Bangsa ini menjadi rusak dan bermental bobrok disebabkan oleh banyaknya tangan-tangan setan mengatasnamakan kebenaran dengan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Tidak jujurnya pelaksanaan PILPRES dan PILKADA di berbagai tempat, menimbulkan benturan antar warga hingga menimbulkan kekacauan. Pengobrak-abrikan Satpol PP pada pedagang kaki lima secara paksa, menyebabkan terjadinya perlawanan yang berujung pada tindakan anarkis. Rendahnya rasa sportifitas dalam berolaraga khususnya sepak bola, menyebabkan seringnya perkelaian antar subporter. Minimnya pendidikan moralitas dan rendahnya mutu pendidkan dilingkungan perguruan tinggi, menyebabkan tingginya tindakkan tawuran antar mahasiswa. Lemahnya pengawasan orang tua kepada anak-anaknya, disebabkan kesibukanya sendiri, menyebabkan rusaknya moralitas remaja kita oleh kehidupan pergaulan bebas. Tidak berjalannya hukum pada rel semestinya, menyebabkan timbul sikap apatis dari masyarakat. Makin menjauhnya kesejateraan hidup rakyat, disebabkan oleh kegoblokkan para wakil rakyat untuk berjuang menyuarakan kepentingan rakyat yang telah memilihnya itu. Kegoblokkan dan ketololan wakil rakyat itu makin terlihat jelas, ketika ditunjukkan dalam rapat paripurna DPR RI dengan diwarnai adu jotos dan makian liar bagai preman jalanan. Segerombolan orang-orang yang mengatasnamakan ormas tertentu telah berani memporakporandakan suatu tempat dengan keberingasannya yang liar tak terkendali, dikarenakan perbedaan prinsip dan ideologi keormasannya, dan ironisnya aparat yang seharusnya bertindak untuk mencegahnya tak berdaya menghadapinya.

Dalam situasi seperti ini, nilai-nilai keluhuran bangsa yang menjadi pegangan hidup sudah tidak berlaku lagi, yang ada hanyalah perilaku  keliaran dan keberingasan hasil suntikan vaksin berbagai isme itu, dan dibesarkan dalam reformasi yang kebablasan, mirip perilaku binatang yang saling tikam dalam memperebutkan mangsa di tengah hutan belantara. Apakah ini yang dinamakan manusia beradab, sementara “GARUDA” yang dulunya “PERKASA” tegar menahan gelombang apapun, kini terkoyak-koyak oleh cakar-cakar “BUDAYA POPULER” lansiran dominasinya kaum kapitalis di negeri ini dari segala penjuru, hingga terkulai, lemas dan tak berdaya. Gaung semangat Merah Putih seharusnya menguasai keadaan setiap hari, di tengah masyarakat dan bertengger dalam jiwa raga pada setiap insan bangsa ini, kini tak mampu lagi menguasai keadaan yang sudah terkontiminasi oleh cara pandang yang cenderung tanpa arah, hasil dari lansiran Budaya Populer itu. Keberadaan Jiwa Merah Putih dan Pancasila hanyalah sebagai barang hiasan belaka dan kala pamornya dengan budaya impor yang sudah menjelma menjadi jatidiri baru negeri ini. Kemunculan Merah Putih dan Pancasila dengan hebatnya, bahkan spektakuler serta menajubkan sekali, ketika perayaan hari besar nasional dan acara simbolik kenegaraan, itupun kalau ada anggarannya heeeii….!!!. Kalau sudah begini lantas kita mau berbuat apa untuk menyelamatkan negeri ini dari kaum imperialisme budaya ?
Perilaku-perilaku negatif hasil dari pengaruh budaya populer dalam masyarakat kapitalis dengan alasan modernisasi, telah menjadi kebudayaan baru di negeri ini dan menggilas budaya lokal yang mengusung kesopanan dan budi pekerti luhur sebagai adat ketimuran yang telah lama dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Penutup
Tayangan apapun yang dilahirkan oleh industri media entah cetak ataupun televisi dengan segala macam ideologi yang banyak mencerminkan budaya asing dan faham kapitalis di dalamnya, akan berdampak pada permirsa dan berimplikasi pada perubahan cara pandang dan gaya hidup, baik yang bersifat positif maupun negatif dalam kehidupan manusia, siapapun sasarannya entah anak-anak, remaja ataupun orang dewasa. Kalau dikaji dari sisi dampak yang terjadi lebih banyak negatifnya yang didapat dari pada sisi positifnya. Media televisi sebagai industri budaya tak segan-segan melakukan penyerangan lewat tayangan yang telah direkonstruksi sedemikian rupa, hingga menyedot permirsa menjadi kecanduan. Karena gencarnya serangan dari tayangan televisi yang di lancir oleh industri media televisi, tanpa disadari hal tersebut seolah-olah menjadi bagian dari kehidupan kita. Bila hal ini terjadi terus menerus, maka akan dikhawatirkan budaya Indonesia yang menjunjung tinggi keluhuran budi pekerti, sifat sabar dan norma kesantunan bisa tergilas oleh budaya baru termasuk BUDAY POPULER yang menawarkan serta merta keglamoran hidup dan mengkapitaliskan praktik-praktik dalam kehidupan bermasyarakat. Kalau sudah begini lantas dimanakah posisi Pancasila dan makna-makna yang ada di dalamnya, di mana pada awalnya negara ini didirikan sudah menjadi harga mati dan satu satunya Ideologi yang menjadi pegangan dan sebagai pandangan hidup dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat ?.

Sudah menjadi kewajiban kita bersama, khususnya kalangan yang berpendidikan tinggi untuk saling mengingatkan, mensosialisasikan bahwa tumbuhnya Budaya Populer lewat tayangan yang tercermin di dalam televisi mempunyai nilai kebaikan, bahkan ada yang sampai menyesatkan. Kini tergantung kita semua bagaimana menyikapinya. Hendaknya segala tayangan yang berimplikasi pada pola hidup yang ada dicerna secara mendalam dikaji sisi positifnya untuk kemudian ditransformasikan dengan budaya kita sendiri. Seandainya semua insan negeri ini setia menanamkan budaya kita yang luhur itu secara mendalam dan memaknainya secara benar dalam sanubari, maka niscaya kebobrokan peradaban bangsa ini tak pernah terjadi.

Diperlukan ketegasan perintah lewat lembaga Komisi Penyiaran Indonesia, Kementrian Komunikasi dan Informasi, Kementrian Budaya dan Pariwisata serta Lembaga Sensor Film untuk terus mengontrol acara-acara dari televisi secara instensif termasuk media cetak dan display. Memberikan sangsi yang tegas dan keras jika ada industri media yang membandel terhadap aturan-aturan yang telah disepakati bersama, demi menghindari atau meminimalisir dari efek-efek negatif yang ditimbulkan oleh industri media tersebut.

Di tengah krisis nasional yang melunturkan jatidiri bangsa Indonesia, akibat kuatnya serangan budaya impor hasil dari rekonstruksi penguasa media, menyebabkan rusaknya sendi-sendi kehidupan luhur bangsa Indonesia yang telah dititipkan dan di wariskan oleh para pendahulu bangsa ini didirikan. Beruntunglah negeri ini masih punya segelintir insan yang mempunyai idealisme tinggi dalam mempertahankan  Pancasila sebagai ideologi bangsa dan Merah Putih sebagai simbol negara Indonesia tercinta, walaupun serangan anging globalisasi menerjangnya, namun kesetiaanya tak dapat digoyahkan dan dipatahkan. “Andaikan Matahari terbit dari utara dengan membawa pernik-pernik kehidupan budaya impor dalam kemewahannya, Aku tetap cinta dengan Budaya Indonesia…!!! dan Walaupun masyarakat sudah terkontiminasi oleh kapitalisme hingga terbentuknya masyarakat konsumtif dan hedonis…, namun Aku tetap Cinta terhadapmu Indonesiaku dengan tetap berperilaku konsisten terhadap nilai-nilai luhur bangsa. Kilaunya keglamouran hidup takkan membalikkan Aku darimu Indonesiaku”. (terinspirasi dari syairnya lagu ciptaan Gombloh). Bagaimanapun keadaan Republik Indonesia, Aku tetap Cinta denganmu sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Daftar Pustaka
Burton, Graeme. 2008. Media dan Budaya Populer. Penyadur: Alfathri Adlin. Yogyakarta: Jalasutra.

Labib, Muh. 2002. Potret Sinetron Indonesia: Antara Ralita Virtual dan Realitas Sosial. Jakarta: MU:3.

Susanto, AB. 2001. Potret-Potret Gaya Hidup Metropolis. Jakarta: Toko Buku Kompas Media Nusantara.

Rahardi, Kunjana. 2000. Renik-Renik Peradapan. Yogyakarta: Duta Wacana Univercity Press.

Storey, Jonh. 2003. Teori Budaya dan Budaya Pop: Memetakan Lanskap Konseptual Cultural Studies. Penyunting: Dede Nurdin. Yogyakarta: Qalam. Al-Barry, MDJ. Sofyan hadi. 2000. Kamus Ilmiah Kontemporer. Bandung: Pustaka Setia.

Barker, Chris. 2004. Cultural Studies: Teori dan Praktik. PenerjemahNurhadi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Surbakti, EB. 2002. Awas tayangan Televisi: Tayangan Misteri dan Kekerasan Mengancam Anak Anda. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Riswandi. 2009. Dasar-Dasar Penyiaran. Jakarta: Graha Ilmu.

Mulyana, Dedi, Idi Subandi Ibrahim. 1997. Bercinta dengan Televisi. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Arifin, Eva. 2010. Broadcasting: To Be Broadcaster. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Marlin,  Randal. 2002. Propaganda and The Ethics Persuasion. Canada: Broadview Press.

Ellul,  Jacques. 1973. Propaganda : The Formation of Mens Attitudes. Vintage Books.

Naya Sujana. I Nyoman dan Lasmono Askandar (ed). 2005. Jatidiri Bangsa Indonesia. Surabaya: DHD 45 Jawa Timur.

Chang, William. 2008. Violensianisme Virsus Pasifisme. Dalam Harian Kompas 11 November.

Panuju, Redi. 2011. Studi Politik Oposisi dan Demokrasi. Yogyakarta : Interprebook.

Djoko Damono, Sapardi. 2009. Kebudayaan (Populer) disekitar Kita. Jakarta : Kompleks Dosen UI.